Indika Akuisisi Tambang Batubara US 175 Juta

PT Indika Energy Tbk (INDY) mengakuisisi tambang batubara di Kalimantan senilai US$ 175 juta. Tambang yang diakuisisi terbagi dalam 6 Kuasa Pertambangan (KP) seluas 30.000 hektar dengan cadangan batubara sebanyak 200-300 juta ton berkalori 5.000-6.000 kkal.

“Seluruh dana akuisisi disuntikkan oleh PT Indika Mitra, selaku pengendali saham INDY, yang merupakan hasil divestasi saham INDY pada akhir tahun lalu,” bisik salah satu pelaku pasar, Senin (31/1/2011).

Pada November 2010, Indika Mitra melepas 5,207 miliar (10%) saham INDY di harga Rp 3.675 per saham atau total senilai Rp 1,913 triliun. Usai divestasi, kepemilikan Indika Mitra menyusut jadi 63,1% dari sebelumnya 73,1%.

Hingga pukul 14.20 waktu JATS, saham INDY berada di level Rp 4.100 per lembar saham, turun 2,95% atau Rp 125 dari harga pembukaan Rp 4.225 per lembar saham.

Bayan Pasok Batubara 13,36 Juta Metric Ton ke TP Utilities

Jakarta – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memasok batubara kepada TPU Tembusu Multi-Utilities Complex sebanyak 13,36 juta metric ton. Pasokan ini dituangkan dalam penandatanganan perjanjian jual beli antara perseroan dengan TP Utilities Pte Ltd (TPU) pada 28 Januari 2011. Demikian disampaikan Direktur PT Bayan Resources Tbk, Jenny Quantero dalam keterangan tertulisnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (1/2/2011). Pemasokan batu bara dilakukan perseoran kepada TPU Tembusu Multi-Utilities Complex selama 15 tahun ke depan, terhitung sejak 2012. Jumlah batu bara yang diperjualbelikan sebanyak 13,36 juta mt atau 10% milik TPU.

TPU merupakan anak perusahaan yang dimilik penih oleh Tuas Power Ltd, perusahaan Singapura pembangkit tenaga listrik utama. TPU memiliki TPU Tembusu Multi-Utilities Complex, yang saat ini masih tahap pengembangan. Bangunan ini menyediakan jasa fasilitas terpadu untuk industri-industri di wilayah Tembusu, Jurong Island, Singapura. (wep/ang)

Investasi Pertambangan Dibawah Target

TEMPO Interaktif, Jakarta -Investasi di sektor pertambangan Mineral dan Batubara hingga akhir Desember ini diperkirakan tidak akan menyentuh angka US$ 2.000 juta, dibawah dari target yang telah ditetapkan dalam awal tahun yaitu sebesar US$ 2.502 juta. “Sampai akhir bulan, investasi diperkirakan mencapai US$ 1865,30 juta,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Senin (27/12).

Padahal di awal tahun pemerintah menargetkan investasi sebesar US$ 2.502 termasuk dengan panas bumi. Setelah mengecualikan panas bumi, target investasi menjadi sebesar US$ 2120 juta.

Secara rinci, pemerintah juga gagal mencapai investasi yang ditargetkan untuk kontrak karya (KK), perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) dan kuasa pertambangan (KP) BUMN juga tidak terpenuhi. Target investasi KK sebesar US$ 1.216 juta hanya terealisasi US$ 1.070,10, PKP2B sebesar US$ 860 juta hanya tercapai US$ 756,90, dan KP BUMN US$ 43,53 juta hanya terpenuhi US$ 38,30 juta.

Menurut Bambang, investasi yang dicapai pada tahun ini lebih banyak kepada investasi untuk peningkatan kapasitas produksi dan rutin.”Proyek-proyek baru masih terkendala berbagai hal termasuk ijin pinjam pakai,” katanya.

Walaupun target tidak tercapai, pendapatan non pajak dari sektor pertambangan naik 4,6 persen dari tahun lalu, yaitu sebesar Rp 16,01 triliun. Bila dihitung dengan pendapatan termasuk pajak dari sektor pertambangan, sumbangan sektor tambang mencapai Rp 56 triliun.

Bambang juga mentargetkan kenaikan investasi di sektor mineral dan batu bara tahun depan, meskipun target investasi tahun ini tidak tercapai. “Tahun depan kami targetkan akan mencapai US$ 2.251,62 juta,” kata dia.

Target investasi tersebut didapat dari kontrak karya US$ 1.289 juta, perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara sebesar US$ 912 juta. Selain itu kuasa pertambangan badan usaha milik negara US$ 50,9 juta.

Menurut Bambang, investasi tersebut ditingkatkan terkait adanya target penambahan produksi mineral dan batubara pada tahun depan.“Kalau ada kenaikan produksi tentu akan ada penambahan investasi karena membutuhkan peralatan tambahan,” katanya.

GUSTIDHA BUDIARTIE

Dicari batubara dari muara bungo

Dicari batubara dari sekitar muara bungo untuk dikirim ke padang untuk supply 1 tahun 10.000 ton/bulan, dgn requirement sbb:

dicari supplier batubara high calorie 6500~6300

Untuk long term supply / yearly export contract
Potential over 1 juta ton / tahun
Harga bagus.

Diperlukan :
- Company profile
- Trading record ( 3 terakhir)
- BoL
- CoA

Info selanjutnya hubungi 081318588866.

Ditawarkan TO KP Exploitasi Muara Bungo Jambi

Kalori 58 – Up
Deposit 12 jt MT

Info pls call 0813 18588866.

Supply mangan 5000 mt/bl port Padang Sumbar

Kalau ada buyer yg tertarik silahkan email ke marvin.mrm@gmail.com

Potensi Batubara Indonesia menjanjikan

Laporan wartawan KOMPAS Harry Susilo

SEMARANG, KOMPAS.com – Potensi batu bara di Indonesia yang begitu besar menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat, Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.

Muhammad Hatta mengungkapkan, cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.

Berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225 juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150 juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198 juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). “Di dalam negeri, batu bara digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,” kata Hatta.

Iwan Munajat mengatakan, tingginya produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi. Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul.

Saat ini, Sumber energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006 mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya 4 persen.

Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30 persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). “Kesadaran ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat nanti,” kata Iwan.

Menurut Iwan, pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar.

Selain batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian perundang-undangan, ke stidaksepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.

Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari 71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi target investor.

KOMPAS Harry Susilo

Editor: mbonk

Sumber: Kompas.com

Dicari Supplier Batubara

Untuk Supply:

Volume: 500.000/ Thn, prorata untuk setiap bulan
Kalori: 56 – 58
Pembayaran: l/c
Delivery: MV
Harga US$ 45.5 /MT

Yang punya harap hubungi: 081227878889

Ekspor Dibatasi, Pemerintah Harus Susun Peta Konsumsi Batubara

Jakarta – Pemerintah berniat membatasi ekspor batubara. Langkah tersebut harus diikuti dengan pembentukan peta konsumsi batubara agar nantinya kebijakan itu tidak sia-sia.

“Peta konsumsi batubara dalam negeri atau grand scenario jangka panjang batubara harus disusun. Berapa penggunaan batubara untuk domestik, industri semen, PLN dll,” ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Energy and Resources Law, Ryad A Chairil kepada detikFinance , Kamis (15/10/2009).

Tanpa pembuatan peta konsumsi batubara domestik, lanjut Ryad, dikhawatirkan produksi batubara tidak akan terserap dengan baik di dalam negeri. Ia mencontohkan kasus serupa yang terjadi di industri migas.

“Ekspor dibatasi tapi akhirnya tidak terserap di dalam negeri,” imbuhnya.

Selain itu, pemerintah juga harus berani melakukan intervensi dari sisi pemasaran. Hal itu menurut Ryad dibenarkan secara kontrak. Ia menjelaskan, selama ini para produsen batubara terikat kontrak dengan pembeli untuk kontrak dengan jangka waktu tertentu.

“Biasanya batubara ketika produksi itu langsung SPA (Sales and Purchase Agreement ) dengan buyer, dikuncu 5,10 atau 30 tahun. Nah, pemerintah harus berani untuk mengintervensi dan membatalkan SPA yang sudah dikontrak jangka panjang,” jelasnya.

Hal lain yang perlu dilakukan terkait pembatasan ekspor itu adalah, pemerintah harus menetapkan coal index yang tidak menyulitkan atau merugikan BUMN untuk membeli.

Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan sebelumnya menyatakan, pemerintah berencana membatasi ekspor batubara menjadi 150 juta ton per tahun. Hal itu dilakukan mengingat adanya peningkatan konsumsi batubara dalam negeri.

Bambang menjelaskan, produksi batubara pada tahun ini diperkirakan sekitar 230 juta ton, dengan alokasi untuk domestik baru sebesar Rp 68,5 juta. Dari jumlah itu kebutuhan untuk pembangkit PLN dialokasikan sekitar 40-46 juta ton. (qom/dnl)

Sumber : Detik.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.