Supply mangan 5000 mt/bl port Padang Sumbar

Kalau ada buyer yg tertarik silahkan email ke marvin.mrm@gmail.com

Potensi Batubara Indonesia menjanjikan

Laporan wartawan KOMPAS Harry Susilo

SEMARANG, KOMPAS.com – Potensi batu bara di Indonesia yang begitu besar menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat, Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.

Muhammad Hatta mengungkapkan, cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.

Berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225 juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150 juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198 juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). “Di dalam negeri, batu bara digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,” kata Hatta.

Iwan Munajat mengatakan, tingginya produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi. Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul.

Saat ini, Sumber energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006 mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya 4 persen.

Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30 persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). “Kesadaran ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat nanti,” kata Iwan.

Menurut Iwan, pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar.

Selain batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian perundang-undangan, ke stidaksepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.

Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari 71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi target investor.

KOMPAS Harry Susilo

Editor: mbonk

Sumber: Kompas.com

Dicari Supplier Batubara

Untuk Supply:

Volume: 500.000/ Thn, prorata untuk setiap bulan
Kalori: 56 – 58
Pembayaran: l/c
Delivery: MV
Harga US$ 45.5 /MT

Yang punya harap hubungi: 081227878889

Ekspor Dibatasi, Pemerintah Harus Susun Peta Konsumsi Batubara

Jakarta – Pemerintah berniat membatasi ekspor batubara. Langkah tersebut harus diikuti dengan pembentukan peta konsumsi batubara agar nantinya kebijakan itu tidak sia-sia.

“Peta konsumsi batubara dalam negeri atau grand scenario jangka panjang batubara harus disusun. Berapa penggunaan batubara untuk domestik, industri semen, PLN dll,” ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Energy and Resources Law, Ryad A Chairil kepada detikFinance , Kamis (15/10/2009).

Tanpa pembuatan peta konsumsi batubara domestik, lanjut Ryad, dikhawatirkan produksi batubara tidak akan terserap dengan baik di dalam negeri. Ia mencontohkan kasus serupa yang terjadi di industri migas.

“Ekspor dibatasi tapi akhirnya tidak terserap di dalam negeri,” imbuhnya.

Selain itu, pemerintah juga harus berani melakukan intervensi dari sisi pemasaran. Hal itu menurut Ryad dibenarkan secara kontrak. Ia menjelaskan, selama ini para produsen batubara terikat kontrak dengan pembeli untuk kontrak dengan jangka waktu tertentu.

“Biasanya batubara ketika produksi itu langsung SPA (Sales and Purchase Agreement ) dengan buyer, dikuncu 5,10 atau 30 tahun. Nah, pemerintah harus berani untuk mengintervensi dan membatalkan SPA yang sudah dikontrak jangka panjang,” jelasnya.

Hal lain yang perlu dilakukan terkait pembatasan ekspor itu adalah, pemerintah harus menetapkan coal index yang tidak menyulitkan atau merugikan BUMN untuk membeli.

Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan sebelumnya menyatakan, pemerintah berencana membatasi ekspor batubara menjadi 150 juta ton per tahun. Hal itu dilakukan mengingat adanya peningkatan konsumsi batubara dalam negeri.

Bambang menjelaskan, produksi batubara pada tahun ini diperkirakan sekitar 230 juta ton, dengan alokasi untuk domestik baru sebesar Rp 68,5 juta. Dari jumlah itu kebutuhan untuk pembangkit PLN dialokasikan sekitar 40-46 juta ton. (qom/dnl)

Sumber : Detik.com

PTT Thailand Incar Tambang Batubara Indonesia

Bangkok – PTT International mengincar tambang batubara di Kalimantan. Perusahaan energi terbesar Thailand itu mengumumkan akan menuntaskan rencana investasinya di perusahaan tambang batubara Indonesia dalam 6 bulan ke depan.

“Kita sedang dalam pembicaraan untuk investasi tambang batubara. Ini akan menjadi investasi bersama guna membantu ekspansi kami,” ujar chairman PTT International, Chitrapongse Kwangsukstith seperti dikutip dari Reuters, Kamis (19/11/2009).

PTT juga menyatakan sedang mencari peluang untuk mencari aset batubara lainnya di Indonesia dan Australia.

Kesepakatan terakhir yang dicapai PTT adalah untuk pembelian tambang Australia, Straits Resources senilai US$ 335 juta. Kesepakatan itu mendandai masuknya PTT ke bisnis batubara untuk pertama kalinya, sekaligus menjadi investasi kedua di Australia.

Chitrapongse memperkirakan PTT akan menaikkan produksi batubaranya menjadi 9 juta ton pada tahun ini. dari 7-8 juta ton pada tahun 2008. Produksi batubara diharapkan meningkat lagi menjadi 11-12 juta ton pada 2010 dan 20 juta ton dalam 5 tahun ke depan.

Direktur Keuangan PTT, Tevin Vongvanick mengatakan, dalam rencana 5 tahunnya, PTT ingin meningkatkan pendapatan dari investasinya di luer menjadi 20% dari total pendapatan grup. Saat ini kontribusi pendapatan asing hanya 10%.

PTT saat ini merupakan perusahaan publik terbesar di Thailand dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai US$ 29 miliar. PTT saat ini tercatat memonopoli sektor migas Thailand dan mengontrol 30% bisnis petrokimia, eksplorasi gas, minyak dan kilang.

(qom/dro)

Sumber: Detik.com

6 Negara Minati Batubara Dari Kaltim

Jakarta – Sejumlah enam negara yakni China, Taiwan, Korea Selatan, India, Philipina, dan sejumlah negara di belahan Afrika menyatakan minatnya untuk mengimpor batubara dari Kalimantan Timur (Kaltim) guna keperluan bahan bakar kegiatan industri di wilayah mereka. Proses negosiasi saat ini masih dilakukan di tingkat pemerintah Indonesia dengan negara-negara tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi Kaltim, Yadi Sabiannor, ketika berbincang dengan detikFinance melalui telepon, Sabtu (28/11/2009).

”Selain batubara, negara-negara itu juga berminat mengimpor produk unggulan lain dari Kaltim,” kata Yadi.

Permintaan batubara dari Kaltim kian tumbuh seiring dengan operasional sejumlah perusahaan batubara ternama seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Sengatta Kabupaten Kutai Timur, PT Kideco Jaya Agung di Kabupaten Pasir, serta PT Berau Coal di Kabupaten Berau.

Negara lainnya yang juga mengimpor batubara dari Kaltim adalah Jepang. Kendati begitu, sambung Yadi, Jepang masih menjadi tujuan pemasaran hasil laut seperti udang beku serta kayu dari Kaltim.

”Karena nyatanya, Jepang lebih menyukai produk hasil laut dan kerajinan lain dari Kaltim ketimbang batubara,” ujar Yadi.

Upaya untuk meningkatkan mutu produk tersebut dibanding negara lain agar tetap memiliki nilai jual tinggi di negara pengimpor, tahun 2010 mendatang 2 bank di Kaltim ditunjuk pemerintah sebagai Lembaga Pengelola Dana Bergulir bagi koperasi dan unit UMKM. Kedua bank itu adalah Bank Kaltim yang dahulu bernama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim yang mendapat memperoleh Rp 6,6 Miliar, serta Bank Bukopin sebesar Rp 1,1 Miliar.

Kebijakan tersebut sudah disosialisasikan saat pemerintah menggelar Rakernas Disperindagkop se-Indonesia di Jakarta, sepekan yang lalu.

”Aturannya memang begitu.Yang menyalurkan dana bergulir adalah bank,” tambah Yadi.

Tidak hanya itu,pemerintah juga memutuskan akan menggelar berbagai kegiatan pelatihan pengembangan koperasi dan UMKM hingga ke daerah, termasuk sertifikasi pengelola, dan anggota koperasi dan UMKM.

”Ini termasuk dalam program 100 hari Presiden. Tujuannya produk nasional tetap memiliki nilai tambah bagi negara-negara pengimpor,” tutup Yadi.

(dnl/dnl)

Sumber: Detik.com

What Indonesia Can Expect from Investment with Britain

Thursday, 5 November 2009 | 9:37 AM
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesian Industry Minister MS Hidayat has offered British investors an opportunity to add their investment in the crude palm oil industry. “I just now offered oil palm downstream processing industry,” he said after meeting with British Trade, Investment and Small Businesses Minister Lord Davies of Abersoch here on Wednesday.

Besides that Hidayat had also asked for cooperation with the British government to develop maritime business in Indonesia. “I asked Britain to give an idea to me regarding maritime business as Britain is a maritime country. So it is how to promote maritime products,” he said.

Hidayat said if possible the cooperation between the two countries’ government could be continued to cooperation in business. On the occasion Britain has offered assistance to promote Indonesian export products by inviting 10 Indonesian businessmen to London to be met with their would-be partners.

“I will assign the British Committee of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) to choose the businessmen including from small and medium businesses who have export programs or fellow businessmen wishing to seek partners for inftrastructure projects here,” he said. Britain has also asked Indonesia to form a trade agency in London to ease promotion of trade and investment in Indonesia.

Source : Antara
Source:kompas.com

Bursa Belum Terima Penjelasan Bumi

VIVAnews – Bursa Efek Indonesia hingga saat ini belum memperoleh penjelasan resmi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkait pinjaman raksasa dari China Investment Corporation (CIC) senilai US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 19 triliun.

Padahal BEI memberikan batas waktu selama tiga hari bursa, sejak surat diserahkan pada Jumat pekan lalu, 1 Oktober.

“Mestinya hari ini disampaikan, tapi Bumi belum melapor. Kami terus melakukan komunikasi dengan mereka,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito di Gedung BEI, Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu, 8 Oktober 2009.

Menurut Eddy, Bursa masih menunggu surat penjelasan Bumi sampai batas waktu yang diberikan pada hari ini. Seraya mengungkapkan dia belum mengetahui apa penyebab keterlambatan penjelasan dari perusahaan tambang batu bara itu.

Terkait keterangan yang diberikan manajemen Bumi dalam pertemuan Analys Meeting kemarin. Eddy menyatakan penjelasan tersebut baru sebatas disampaikan kepada para analis. Karenanya, Bursa tidak mengetahui keterangan apa yang diberikan manajemen.

Sebelumnya, Bursa menyatakan masih meminta penjelasan tertulis dari manajemen Bumi terkait pinjaman dari CIC itu. Dalam pertemuan terakhir dengan direksi BEI, Bumi menegaskan bahwa instrumen debt like investment yang digunakan dalam transaksi bukan dalam bentuk ekuitas melainkan utang murni.

Selain itu, jaminan yang diberikan dalam transaksi tersebut berupa saham-saham perusahaan tambang. Kemudian, debt like investment yang diberikan tidak dilakukan melalui konversi ke dalam bentuk saham dan tidak ada warrant.

hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews

Jepang Andalkan Impor Batu Bara Indonesia

JAKARTA – Jepang masih mengandalkan impor batu bara dari Indonesia. Bahkan dalam beberapa tahun belakangan volumenya mengalami peningkatan yang tajam.

Selain akibat ketidakstabilan pasokan dari China, impor batu bara dari Indonesia ke Jepang lebih menguntungkan dari sisi angkutan laut dibanding dengan batu bara dari Australia.

“Konsumen batu bara di Jepang telah mengalihkan impor ke Indonesia,” ujar General Manager Business Development, Energy & Mineral Resources Sojitz Corporation, Eiichiro Makino, dalam makalahnya, seperti dikutip dari situs ESDM, di Jakarta, Sabtu (6/6/2009).

Berdasarkan data yang disampaikan Eiichiro, hingga 2008, impor batu bara Jepang dari Indonesia sekira 30 persen dari kebutuhan negeri ini. Peningkatan kontribusi batu bara Indonesia di Jepang terjadi mulai 2003 yaitu sekira 22 persen.

Sejak itu setiap tahunnya, batu bara Indonesia terus meningkat perannya untuk memenuhi kebutuhan Jepang. Sebelumnya, dari 2000-2002, peran batu bara Indonesia di Jepang stabil di kisaran 14 persen.

Adapun kebutuhan Jepang akan batu bara, menurut Eiichiro, masih terus meningkat. Jika di 2009 kebutuhan batu bara Jepang diprediksi sebesar 60 juta metrik ton, maka di 2015 akan menjadi 120 juta metrik ton. Kebutuhan sebesar itu baik untuk industri maupun pembangkit listrik.

Peningkatan impor batu bara sub-bituminous dari Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dan di masa mendatang adalah untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Jepang.

Pemanfaatan batu bara sub-bituminous, menurut Eiichiro, memiliki prospek yang baik terutama dari sisi harga yang tergolong kompetitif dalam beberapa tahun mendatang. Hanya saja, di sisi lain ada tantangan lingkungan hidup antara penanganan abu maupun harus meminimalkan emisi gas SOx dan NOx.

Kendati teknologi pemanfaatan batu bara Low Rank semakin berkembang, konsumen Jepang masih membatasi untuk memilih batu bara kualitas menengah dari Indonesia.

Sumber:

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/06/06/277/226705/jepang-

andalkan-impor-batu-bara-indonesia/jepang-andalkan-impor-batu-bara-indonesia

selasa, 9/6/2009, 2:35 PM

Tangsel Akan Punya Terminal Batu Bara

Sumber: kompas.com

Selasa, 22 September 2009 | 02:31 WIB
TANGERANG, KOMPAS,com – Pemerintah dalam waktu dekat ini berencana membangun terminal bongkar muat batu bara di Kelurahan Rawamekar Jaya, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Banten.

“Kita masih menunggu hasil studi banding dari pemerintah daerah setempat terkait pembangunan terminal bongkar muat batu bara di Serpong,” ungkap Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan (Dephub) Tunjung Inderawan di Tangerang, Senin (21/9).

Hasil studi yang diminta oleh Pemerintah dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangsel yakni mengenai hasil analisis dampak lingkungan (amdal) di lokasi pembangunan terminal bongkar muat batu bara di Serpong. Menurut Tunjung, pihaknya telah melihat rancangan dan lokasi dari pembangunan terminal batu bongkar muat batubara di Serpong, namun belum dilakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

“Jika nanti hasil amdal pemerintah daerah telah diselesaikan dan tidak memengaruhi lingkungan sekitar, kita segera mengecek kembali apakah layak atau tidak,” ujar Tunjung.

Tunjung menyatakan, pihaknya belum bisa memastikan kapan akan melakukan pembangunan terminal tersebut, mengingat diperlukan beberapa tahap untuk mematangkan pembangunan terminal batu bara itu. “Tetapi bila hasil studi pemerintah daerah diterima tahun ini, pelaksanaan pembangunan terminal itu dari jadwal sebelumnya tahun 2010 dirubah menjadi tahun 2011 mendatang,” tandas Tunjung.

Dipilihkan Rawamekar Jaya, Serpong, sebagai lokasi pembangunan terminal bongkar muat batu bara karena daerah tersebut lebih produktif sebagai jalur lintas dan lokasi untuk menyuplai batu bara ke beberapa daerah di Jakarta, Bogor, Tangerang, Banten, dan Bekasi.

Adapun daerah Rawamekar Jaya, Serpong, dipilih karena lokasinya lebih stategis dari Citayam, Nambo Cibinong Depok, Jawa Barat yang sebelumnya diusulkan untuk pembangunan terminal batu bara.

Sementara itu, Kepala BLHD Kota Tangsel, Racman Suhendar menyatakan pengkajian lebih mendalam melalui amdal sebagai langkah mengetahui dampak lingkungan satuan kerja pembangunan terminal bongkar muat batu bara jalur ganda Tanah Abang-Serpong-Maja. “Semua pengkajian amdal masih berjalan, kita belum memastikan kapan waktunya selesai,” ungkapnya.

Sent from Indosat BlackBerry powered by

XVD
Sumber : Ant